Gerak, Irama, dan Budaya: Musik Tradisional Bali sebagai Media Belajar Anak
Musik tradisional Bali dikenal kaya akan ritme, dinamika, dan ekspresi tubuh. Dalam konteks pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini, musik ini memiliki potensi besar sebagai media pembelajaran gerak dan irama yang menyenangkan sekaligus bermakna.
Musik tradisional Bali, seperti gamelan gong kebyar atau gender wayang, memiliki tempo dan pola ritmis yang kuat. Irama yang hidup ini secara alami mengajak tubuh untuk bergerak, menari, dan mengekspresikan diri.
Pembelajaran gerak dan irama pada anak bertujuan mengembangkan koordinasi motorik, keseimbangan, serta kepekaan terhadap tempo. Musik Bali membantu anak mengenali cepat lambat, kuat lembut, dan jeda dalam gerakan.
Dalam praktik di kelas, guru dapat memperdengarkan musik Bali sederhana lalu mengajak anak bergerak bebas mengikuti irama. Anak tidak dituntut menari dengan pola tertentu, melainkan mengekspresikan rasa melalui gerakan tubuh.
Sebagai contoh, ketika irama gamelan terdengar cepat dan dinamis, anak cenderung melompat atau berputar. Saat musik melambat, gerakan anak pun menjadi lebih lembut. Dari sini anak belajar menyesuaikan gerak dengan irama.
Musik tradisional Bali juga kaya nilai budaya. Anak tidak hanya bergerak, tetapi juga dikenalkan pada identitas budaya Nusantara sejak dini melalui pengalaman yang menyenangkan.
Gerak dan irama berbasis musik tradisional membantu anak memahami tubuhnya sendiri. Anak belajar mengenali ruang, arah, dan kontrol tubuh tanpa tekanan akademik.
Bagi anak yang sulit duduk diam, kegiatan ini menjadi saluran energi yang positif. Anak dapat bergerak aktif namun tetap terarah dan bermakna.
Dalam pembelajaran inklusif, musik Bali juga fleksibel. Anak dengan kemampuan berbeda dapat berpartisipasi sesuai kapasitasnya, baik melalui gerakan kecil maupun besar.
Guru berperan sebagai fasilitator yang memberi ruang eksplorasi. Tidak ada gerakan benar atau salah, yang ada adalah proses belajar melalui pengalaman sensorimotor.
Selain aspek motorik, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa percaya diri. Anak merasa dihargai ketika gerakannya diterima dan diapresiasi.
Dengan memanfaatkan musik tradisional Bali, pembelajaran gerak dan irama menjadi lebih kontekstual, menyenangkan, dan berakar pada budaya lokal.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa musik tradisional bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sumber belajar yang relevan bagi anak masa kini.
Referensi:
Suyanto, S. 2005. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.
Hadi, Y. Sumandiyo. 2012. Seni Pertunjukan dan Pendidikan.
Kemdikbud. 2018. Pembelajaran Seni dan Budaya di PAUD.
Created:
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai
Artikel ini berkaitan dengan SDGs tujuan ke-4 Quality Education dan tujuan ke-11 Sustainable Cities and Communities.