Gaya Pengasuhan Ayah dan Ibu: Dua Pendekatan yang Saling Melengkapi
Ketika membicarakan pengasuhan anak, sering kali yang muncul di benak kita adalah sosok ibu yang lembut dan ayah yang tegas. Padahal, realitas pengasuhan jauh lebih kompleks dari itu. Ayah dan ibu punya gaya berbeda bukan karena stereotip semata, tetapi karena pengalaman hidup, nilai budaya, dan cara mereka memaknai peran orangtua. Uniknya, perbedaan ini justru menjadi kekuatan besar dalam perkembangan anak.
Ibu umumnya dikenal lebih responsif terhadap kebutuhan emosional anak. Misalnya, ketika seorang anak menangis karena merasa kesal, ibu cenderung mengajak bicara dengan lembut: “Ayo cerita, kenapa sedih?” Respons ini membangun rasa aman dan menumbuhkan kemampuan anak mengenali emosinya. Di sisi lain, ayah sering menunjukkan pendekatan yang lebih mendorong kemandirian. Saat anak terjatuh sedikit, ayah bisa berkata, “Coba bangun lagi, kamu bisa.” Pesan ini secara tidak langsung melatih keberanian anak.
Dalam permainan, perbedaan ini tampak sangat jelas. Ayah biasanya lebih aktif dalam permainan fisik seperti kejar-kejaran, berguling, atau petualangan kecil di luar rumah. Aktivitas ini melatih keberanian, motorik kasar, dan kemampuan mengambil risiko secara sehat. Sementara itu, ibu sering terlibat dalam permainan yang lebih terstruktur, seperti bermain peran, memasak pura-pura, atau menyusun balok. Jenis permainan ini meningkatkan fokus, kemampuan bahasa, dan keterampilan sosial anak.
Contoh lainnya terlihat saat menghadapi konflik. Ibu sering mengambil pendekatan emosional—mengajarkan anak untuk mengungkapkan perasaan dan mencari solusi damai. Ayah, di sisi lain, cenderung mengajarkan strategi praktis, seperti bagaimana bertindak tegas atau mengambil keputusan. Tidak berarti salah satu lebih baik; justru kombinasi keduanya membantu anak belajar berpikir dengan kepala dan juga dengan hati.
Dalam banyak keluarga modern, batas antara peran ayah dan ibu juga makin cair. Banyak ayah yang piawai memasak dan menidurkan anak, sementara ibu aktif bekerja dan mengambil keputusan tegas dalam rumah tangga. Penelitian menunjukkan bahwa anak lebih berkembang ketika melihat kedua orangtua berbagi peran secara fleksibel, tanpa terjebak dalam stereotip gender. Kehadiran ayah yang hangat dan terlibat bahkan terbukti meningkatkan performa akademik dan kesehatan mental anak.
Di sisi emosional, ibu sering kali menjadi tempat anak mencurahkan isi hati. Namun jika ayah juga membangun kedekatan melalui kebiasaan sederhana—misalnya rutin membaca cerita sebelum tidur atau mengajak anak berbicara di perjalanan—anak tumbuh dengan rasa aman yang lebih menyeluruh. Dua figur yang hadir dalam hidupnya memberikan dua jenis kehangatan.
Menariknya, perbedaan gaya pengasuhan juga dapat menimbulkan gesekan antara ayah dan ibu. Misalnya, saat ibu ingin tegas soal jam tidur, ayah kadang membiarkan anak begadang sedikit untuk menonton film bersama. Perbedaan seperti ini bukan masalah selama ada komunikasi yang jelas. Justru dari sinilah anak belajar bahwa dunia dipenuhi berbagai tipe orang dengan cara berpikir yang berbeda.
Yang paling penting bukan siapa yang lebih benar atau lebih baik, tetapi bagaimana ayah dan ibu saling menguatkan. Ketika anak melihat orangtuanya bekerja sebagai tim—walau dengan gaya berbeda—anak akan belajar bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan masalah. Dan dari sinilah tumbuh generasi yang lebih empatik, fleksibel, dan percaya diri.
Pada akhirnya, pengasuhan bukan tentang menyamakan gaya, melainkan tentang saling melengkapi. Ayah memberi dunia yang penuh tantangan agar anak berani menjelajah. Ibu memberi dunia yang penuh kehangatan agar anak berani kembali pulang. Keduanya sama pentingnya.