Dari Rumah ke Sekolah Lagi: Cerita Transisi Anak Setelah Liburan Panjang
Cover edited
Transisi dari rumah ke sekolah setelah liburan adalah proses penyesuaian anak untuk kembali ke rutinitas belajar setelah melewati waktu yang lebih longgar dan bebas bersama keluarga. Liburan memberi ruang bagi anak untuk beristirahat, bermain tanpa jadwal, dan menikmati kedekatan emosional dengan orang tua, sehingga kembali ke sekolah sering kali terasa seperti perubahan besar, terutama bagi anak usia dini.
Pada masa ini, anak tidak hanya berpindah tempat secara fisik, tetapi juga secara emosional dan sosial. Dari suasana rumah yang penuh fleksibilitas, anak kembali pada aturan, jadwal, dan tuntutan sosial di sekolah. Tidak heran jika sebagian anak terlihat lebih rewel, enggan berpisah dengan orang tua, atau kehilangan semangat di hari-hari awal masuk sekolah.
Transisi ini sebenarnya sangat wajar dan menjadi bagian penting dari perkembangan anak. Anak sedang belajar mengelola perubahan, mengatur emosi, serta membangun kembali rasa aman di lingkungan sekolah. Ketika proses ini didampingi dengan tepat, transisi justru bisa menjadi pengalaman belajar yang bermakna.
Contoh yang sering ditemui adalah anak yang selama liburan terbiasa bangun siang dan bermain gawai lebih lama. Saat sekolah dimulai, anak harus kembali bangun pagi, mengikuti kegiatan terstruktur, dan berinteraksi dengan banyak teman. Tanpa persiapan, perubahan ini bisa memicu stres ringan pada anak.
Peran orang tua sangat penting dalam masa transisi ini. Orang tua dapat mulai menyesuaikan kembali rutinitas anak beberapa hari sebelum sekolah dimulai, seperti mengatur jam tidur, membicarakan kegiatan sekolah dengan nada positif, dan mengingatkan kembali tentang guru serta teman-temannya.
Guru juga memiliki peran besar dalam membantu anak melewati masa transisi. Kegiatan awal masuk sekolah sebaiknya dirancang lebih fleksibel, menyenangkan, dan tidak langsung menuntut capaian akademik. Aktivitas seperti bercerita pengalaman liburan, bermain kelompok, atau menggambar dapat membantu anak merasa diterima dan nyaman.
Lingkungan sekolah yang ramah transisi akan membuat anak merasa bahwa sekolah adalah tempat yang aman dan menyenangkan. Ketika guru menyapa anak dengan hangat dan memberi waktu untuk beradaptasi, anak akan lebih mudah membangun kembali rasa percaya dirinya.
Transisi yang berhasil juga membantu perkembangan sosial anak. Anak belajar kembali berbagi, menunggu giliran, dan bekerja sama dengan teman. Interaksi ini penting untuk membangun keterampilan sosial yang mungkin sempat “istirahat” selama liburan.
Jika transisi diabaikan, anak bisa menunjukkan penolakan terhadap sekolah dalam jangka waktu yang lebih lama. Oleh karena itu, memahami transisi sebagai proses, bukan masalah, akan membantu orang dewasa bersikap lebih sabar dan suportif.
Pada akhirnya, transisi dari rumah ke sekolah setelah liburan adalah jembatan penting antara dunia keluarga dan dunia pendidikan. Dengan dukungan yang konsisten dari orang tua dan guru, anak dapat melewati masa ini dengan lebih tenang dan siap belajar kembali.
Referensi:
UNESCO. (2019). Happy Schools: A Framework for Learner Well-being.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2020). Transisi PAUD ke Sekolah Dasar.
Pianta, R. C. (2006). School Readiness and the Transition to Kindergarten.
SDGs terkait: SDG 4 Pendidikan Berkualitas
Created
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai