Dari Rasa Ingin Tahu ke Bullying Dini: Peran Emotional Intelligence dalam Anti-Bullying Programs di PAUD
Pada usia dini, rasa ingin tahu adalah dorongan alami yang membuat anak aktif bereksplorasi, bertanya, dan mencoba hal baru. Namun, ketika rasa ingin tahu tidak dibimbing dengan pemahaman sosial-emosional yang memadai, interaksi anak dapat berubah menjadi perilaku yang melukai teman, seperti mengejek, mengambil paksa, atau mendominasi permainan. Inilah yang disebut bullying dini, yaitu perilaku agresif yang muncul secara berulang dan bersifat menyakiti, baik secara fisik maupun emosional, dalam konteks hubungan yang tidak seimbang. Meski terlihat sederhana, bullying pada usia PAUD tidak boleh dianggap remeh karena dapat memengaruhi perkembangan karakter, rasa aman, dan kemampuan sosial anak dalam jangka panjang.
Untuk itu, Emotional Intelligence (EI) atau kecerdasan emosional berperan penting sebagai fondasi pencegahan bullying sejak dini. Emotional Intelligence merujuk pada kemampuan anak mengenali, memahami, mengekspresikan, dan mengelola emosi, baik emosi diri maupun orang lain. Dalam konteks PAUD, EI bukan hanya tentang mengajarkan anak menyebutkan jenis emosi, tetapi juga membangun kesadaran diri, empati, kemampuan mengendalikan impuls, serta keterampilan menjalin hubungan sosial. Ketika EI diperkuat melalui program anti-bullying, anak belajar bahwa setiap emosi harus dipahami, bukan dilampiaskan pada orang lain.
Anti-Bullying Programs di PAUD biasanya dirancang dengan pendekatan bermain, bercerita, role play, serta kegiatan refleksi sederhana yang disesuaikan dengan karakteristik usia dini. Guru dapat memfasilitasi permainan yang mendorong kerja sama, mengajak anak membaca buku cerita tentang empati, atau mempraktikkan dialog “bagaimana perasaanmu” untuk menghubungkan perilaku dengan dampaknya. Selain itu, sekolah juga perlu menciptakan lingkungan yang aman secara emosional, di mana anak bebas mengekspresikan diri tanpa takut diejek atau direndahkan. Peran orang tua dan guru sebagai role model sangat penting untuk menunjukkan bagaimana merespons konflik dengan cara sehat.
Ketika program anti-bullying dipadu dengan penguatan kecerdasan emosional, anak tidak hanya memahami bahwa bullying itu salah, tetapi juga mengembangkan kemampuan untuk menghindarinya, menolaknya, atau membantu teman yang menjadi korban. Mereka belajar bahwa setiap emosi dapat disampaikan dengan cara yang baik, dan setiap orang berhak mendapatkan perlakuan penuh hormat. Pendekatan ini membuat upaya pencegahan bullying lebih efektif karena menyentuh akar penyebab: kurangnya kemampuan mengelola emosi dan memahami perasaan orang lain.
Trivia Menarik:
-
Penelitian menunjukkan anak yang memiliki kecerdasan emosional tinggi cenderung 60% lebih kecil kemungkinan terlibat perilaku bullying di sekolah.
-
Di PAUD, perilaku bullying paling sering muncul bukan karena niat jahat, tetapi karena anak belum memahami batasan sosial dan belum mampu mengendalikan impuls.
-
Aktivitas sederhana seperti bermain peran (role play) dapat meningkatkan empati anak hingga dua kali lipat dibandingkan metode ceramah.
-
Guru yang rutin melakukan “check-in emosi” di pagi hari membantu menurunkan insiden konflik antar anak karena anak lebih sadar dengan kondisi emosinya.
-
Program bercerita dengan tokoh hewan terbukti menjadi cara paling efektif untuk mengajarkan konsep empati karena anak merasa lebih aman untuk belajar tanpa merasa disalahkan.