Dampak Bilingualisme di Rumah: Apakah Benar Menyebabkan Anak Bingung Bahasa?
Bilingualisme di rumah merujuk pada praktik penggunaan dua bahasa atau lebih secara konsisten dalam lingkungan keluarga, baik melalui komunikasi antara orang tua dan anak, interaksi dengan anggota keluarga lain, maupun paparan media sehari-hari. Dalam konteks perkembangan anak usia dini, bilingualisme sering kali muncul ketika orang tua secara sadar mengenalkan dua bahasa—misalnya bahasa ibu dan bahasa kedua—sejak anak masih kecil. Praktik ini kerap menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran, terutama anggapan bahwa anak akan “bingung bahasa” atau mengalami keterlambatan bicara. Namun, pandangan ini perlu dipahami secara lebih ilmiah dan proporsional.
Anggapan bahwa bilingualisme menyebabkan anak bingung bahasa sebenarnya merupakan mitos yang masih banyak beredar. Penelitian dalam bidang linguistik dan psikologi perkembangan menunjukkan bahwa otak anak memiliki kemampuan luar biasa untuk memproses lebih dari satu bahasa sekaligus. Anak bilingual mungkin terlihat mencampur dua bahasa dalam satu kalimat (code-mixing), tetapi hal ini bukan tanda kebingungan, melainkan strategi komunikasi yang normal. Anak sedang menggunakan seluruh kosakata yang ia miliki untuk menyampaikan maksudnya, dan seiring bertambahnya usia serta kematangan kognitif, anak akan mampu memisahkan penggunaan bahasa sesuai konteks dan lawan bicara.
Dampak bilingualisme di rumah justru cenderung positif apabila diterapkan secara konsisten dan responsif. Anak bilingual sering menunjukkan fleksibilitas kognitif yang lebih baik, seperti kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengalihkan perhatian dengan lebih efektif. Selain itu, penguasaan dua bahasa sejak dini dapat memperkaya kemampuan sosial anak, memperluas wawasan budaya, serta meningkatkan kepercayaan diri ketika berinteraksi dengan lingkungan yang beragam. Yang perlu diperhatikan adalah kualitas interaksi bahasa, bukan jumlah bahasa itu sendiri. Anak tetap membutuhkan komunikasi yang hangat, jelas, dan bermakna dari orang dewasa di sekitarnya.
Namun demikian, bilingualisme dapat menimbulkan tantangan apabila tidak disertai pola pengasuhan bahasa yang tepat. Ketidakkonsistenan penggunaan bahasa, minimnya interaksi verbal, atau tekanan berlebihan pada anak untuk segera menguasai dua bahasa dapat membuat anak tampak ragu atau pasif dalam berbicara. Kondisi ini sering keliru diartikan sebagai kebingungan bahasa, padahal lebih berkaitan dengan faktor lingkungan dan stimulasi. Oleh karena itu, orang tua disarankan untuk menggunakan bahasa yang paling nyaman dan dikuasai dengan baik saat berinteraksi, agar anak mendapatkan model bahasa yang kaya dan utuh.
Sebagai trivia menarik, banyak anak bilingual justru menyadari sejak dini bahwa mereka memiliki “dua sistem bahasa” di dalam otaknya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi berusia di bawah satu tahun sudah mampu membedakan dua bahasa yang berbeda dari intonasi dan ritmenya. Menariknya lagi, anak bilingual tidak memiliki satu bahasa “utama” secara permanen; bahasa yang lebih dominan bisa berubah tergantung lingkungan dan intensitas penggunaan. Fakta ini menegaskan bahwa bilingualisme bukan sumber kebingungan, melainkan bukti fleksibilitas dan kecerdasan adaptif otak anak sejak usia dini.