Cara Orangtua Mendukung Anak yang Mulai Dewasa
Mendampingi anak yang mulai beranjak dewasa adalah salah satu fase paling indah sekaligus menantang bagi orangtua. Anak yang dulunya selalu bertanya apa pun pada Anda, kini mulai punya dunia sendiri. Mereka punya pendapat, punya keinginan, bahkan mungkin mulai berdebat. Pada fase ini, tugas orangtua bukan lagi mengatur semua, tetapi menjadi tempat pulang yang aman sambil membantu mereka membentuk identitas diri.
Anak yang mulai dewasa butuh ruang untuk mengambil keputusan. Misalnya, remaja yang ingin memilih kegiatan ekstrakurikuler sendiri atau memutuskan jurusan kuliah. Orangtua sering kali ingin “mengarahkan,” tetapi terlalu banyak arahan justru membuat anak merasa tidak dipercaya. Memberikan kesempatan mereka mencoba, bahkan salah, adalah bagian penting dari proses tumbuh dewasa.
Dalam kehidupan sehari-hari, dukungan orangtua bisa terlihat sederhana. Contohnya, ketika anak mulai belajar mengelola keuangan sendiri, orangtua bisa menawarkan bimbingan tanpa mengontrol secara berlebihan. “Kalau butuh saran, Mama ada,” adalah kalimat yang membuat anak merasa dihargai sekaligus tetap merdeka. Beda rasanya dengan “Uangmu jangan dipakai begini, harus begitu.”
Di saat yang sama, komunikasi jadi kunci utama. Remaja dan dewasa muda seringkali sangat sensitif terhadap nada suara. Mereka ingin didengar, bukan dihakimi. Ajak mereka ngobrol dengan pertanyaan terbuka seperti, “Menurut kamu, apa yang paling ingin kamu capai tahun ini?” Dengan cara ini, anak merasa dihargai sebagai individu yang punya pemikiran sendiri.
Orangtua juga perlu memahami bahwa “menarik diri” bukan selalu berarti anak menjauh. Ini sering kali wajar pada masa remaja. Mereka sedang belajar membangun privasi, mencoba membedakan identitas dirinya dari orangtua. Di fase ini, orangtua bisa hadir tanpa memaksa. Cukup dengan mengatakan, “Aku tetap ada di sini kalau kamu butuh.”
Selain dukungan emosional, orangtua juga berperan dalam mengajarkan tanggung jawab nyata. Misalnya, anak mulai diberi kebebasan mengatur jadwal belajar, bangun tidur, atau pekerjaan rumah. Langkah kecil seperti membiarkan mereka mengelola tugas dan konsekuensinya membantu membentuk rasa tanggung jawab yang kuat di masa dewasa nanti.
Dalam hubungan sosial, anak yang mulai dewasa juga menghadapi tekanan pertemanan dan lingkungan. Orangtua dapat membantu dengan mengajarkan batasan yang sehat dan kemampuan mengambil keputusan. Bukan dengan melarang pertemanan tertentu, tetapi dengan berdiskusi tentang nilai-nilai, risiko, dan cara menjaga diri.
Di era digital, dukungan orangtua juga berarti memahami dunia online mereka. Daripada langsung melarang penggunaan media sosial atau game, orangtua bisa mengajak dialog: “Bagaimana kamu merasa setelah bermain?” atau “Apa yang kamu pelajari dari konten itu?” Cara ini membantu anak tetap kritis dan bijak tanpa merasa diawasi secara berlebihan.
Mendukung anak yang mulai dewasa juga berarti menerima bahwa mereka mungkin memiliki pilihan hidup berbeda dari harapan kita. Anak yang memilih passion di bidang seni, olahraga, atau teknologi kadang membuat orangtua khawatir. Namun, ketika orangtua mau mendengarkan alasan dan mempelajari dunia mereka, relasi justru menjadi lebih kuat.
Akhirnya, yang paling dibutuhkan anak bukan orangtua yang sempurna, tetapi orangtua yang hadir. Hadir secara mental, hadir tanpa menghakimi, hadir sebagai tempat bertanya dan pulang. Melepas anak bukan berarti kehilangan mereka—justru membuka kesempatan membangun hubungan baru yang lebih sehat, dewasa, dan penuh saling percaya.