Bunyi yang Menyatukan: Musik Angklung dan Kerja Sama Anak Sejak Dini
Musik selalu punya cara unik untuk mendekatkan manusia, termasuk anak-anak. Salah satu alat musik tradisional Indonesia yang kaya makna edukatif adalah angklung, yang sejak awal memang dirancang untuk dimainkan bersama, bukan sendiri.
Angklung adalah alat musik bambu yang menghasilkan bunyi ketika digoyangkan. Setiap angklung hanya menghasilkan satu nada, sehingga sebuah lagu baru bisa terdengar indah jika dimainkan oleh banyak orang secara kompak dan terkoordinasi.
Dalam konteks pendidikan anak usia dini, angklung bukan sekadar media seni, tetapi juga sarana belajar sosial. Anak belajar bahwa keberhasilan tidak datang dari satu orang, melainkan dari kerja sama semua anggota kelompok.
Ketika anak memegang angklung, ia harus menunggu aba-aba, mendengarkan teman, dan menyesuaikan diri dengan irama bersama. Proses sederhana ini melatih kesabaran, kontrol diri, dan kemampuan mengikuti aturan.
Sebagai contoh, dalam satu kelompok bermain angklung, ada anak yang memegang nada do, re, mi, hingga sol. Jika satu anak bermain terlalu cepat atau terlambat, lagu akan terdengar kacau. Dari situ anak belajar pentingnya peran masing-masing.
Musik angklung juga membantu anak memahami konsep saling bergantung secara positif. Anak menyadari bahwa bunyi miliknya penting, tetapi tidak lebih penting dari bunyi teman-temannya.
Bagi anak yang pemalu, bermain angklung menjadi jembatan sosial. Mereka tidak harus berbicara banyak, tetapi tetap terlibat aktif dalam kelompok melalui bunyi yang dihasilkan.
Dalam kelas PAUD, angklung bisa digunakan sebagai kegiatan rutin atau proyek tematik. Guru dapat mengaitkannya dengan tema budaya, kebersamaan, atau bahkan matematika sederhana seperti pola dan hitungan.
Kerja sama yang terbangun melalui angklung bersifat alami dan menyenangkan. Anak tidak merasa sedang “diajari”, tetapi belajar melalui pengalaman langsung yang bermakna.
Selain itu, angklung juga menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal. Anak belajar bahwa alat musik tradisional bisa sama serunya dengan alat musik modern.
Bagi guru dan orang tua, angklung adalah media yang fleksibel. Tidak membutuhkan teknologi rumit, tetapi kaya nilai pembelajaran sosial dan emosional.
Melalui musik angklung, anak belajar mendengarkan, menunggu giliran, dan menghargai perbedaan peran. Nilai-nilai ini menjadi fondasi penting bagi kerja sama di masa depan.
Dengan demikian, angklung bukan hanya alat musik, tetapi juga alat pembentuk karakter sosial anak. Bunyinya sederhana, tetapi maknanya dalam.
Referensi:
Suyanto, S. 2005. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.
Hurlock, E. B. 1980. Child Development.
Kemdikbud. 2017. Penguatan Pendidikan Karakter melalui Seni Budaya.
Created:
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai
Artikel ini berkaitan dengan SDGs tujuan ke-4 Quality Education dan tujuan ke-11 Sustainable Cities and Communities.