Bertahan dan Bertumbuh: Tantangan Ibu Tunggal Mengasuh Anak Usia Dini
Menjadi ibu tunggal dengan anak usia dini adalah perjalanan hidup yang penuh dinamika. Di satu sisi ada tanggung jawab besar sebagai pengasuh utama, di sisi lain ada tuntutan ekonomi, sosial, dan emosional yang datang bersamaan. Peran ini sering dijalani dalam sunyi, namun menyimpan kekuatan luar biasa.
Secara pengertian, ibu tunggal dengan anak usia dini adalah perempuan yang menjalankan peran pengasuhan, pendidikan, dan perlindungan anak tanpa pasangan, baik karena perceraian, kematian, maupun pilihan hidup tertentu. Pada fase usia dini, anak sangat bergantung pada figur orangtua sehingga peran ibu menjadi sangat sentral.
Tantangan pertama yang sering muncul adalah pembagian waktu. Ibu tunggal harus mengatur waktu antara bekerja, mengurus rumah, dan mendampingi anak. Anak usia dini membutuhkan kehadiran yang konsisten, sementara tuntutan ekonomi sering memaksa ibu untuk bekerja lebih lama.
Tantangan emosional juga tidak kalah besar. Ibu tunggal kerap memendam kelelahan, kesepian, dan rasa bersalah karena merasa belum maksimal mendampingi anak. Dalam banyak kasus, ibu berusaha terlihat kuat di depan anak meski secara emosional sedang rapuh.
Dari sisi anak, kondisi ibu tunggal dapat memengaruhi emosi dan perilaku. Anak usia dini bisa menunjukkan kecemasan, mudah rewel, atau menjadi lebih sensitif. Contohnya, anak menjadi lebih melekat pada ibu karena takut ditinggalkan, sehingga membutuhkan pendekatan pengasuhan yang penuh empati.
Stigma sosial masih menjadi tantangan nyata. Ibu tunggal sering mendapat label negatif atau pandangan simpati berlebihan dari lingkungan. Situasi ini dapat memengaruhi kepercayaan diri ibu dan cara ia memposisikan diri dalam lingkungan sosial maupun pendidikan anak.
Meski demikian, banyak ibu tunggal justru mengembangkan pola asuh yang hangat dan resilien. Ibu belajar lebih peka terhadap kebutuhan anak, membangun komunikasi terbuka, dan menciptakan rutinitas sederhana yang memberikan rasa aman bagi anak.
Contoh praktik positif terlihat saat ibu melibatkan anak dalam aktivitas sehari-hari seperti merapikan rumah atau memasak sederhana. Selain memperkuat ikatan emosional, kegiatan ini juga melatih kemandirian dan rasa tanggung jawab anak sejak dini.
Dukungan sosial menjadi kunci penting. Keluarga besar, tetangga, komunitas ibu, dan guru PAUD dapat menjadi sumber dukungan emosional dan praktis. Kolaborasi ini membantu ibu tunggal tidak merasa sendirian dalam proses pengasuhan.
Dalam konteks pendidikan, keterlibatan ibu tunggal dalam kegiatan sekolah tetap penting meski terbatas waktu. Komunikasi yang baik dengan guru membantu memastikan kebutuhan belajar dan emosi anak tetap terpantau dengan baik.
Ibu tunggal juga perlu merawat dirinya sendiri. Kesehatan mental dan fisik ibu sangat memengaruhi kualitas pengasuhan. Memberi ruang untuk istirahat dan refleksi bukan bentuk egoisme, melainkan bagian dari pengasuhan yang berkelanjutan.
Tantangan ibu tunggal dengan anak usia dini pada akhirnya bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang bertumbuh bersama. Dengan dukungan yang tepat dan pola asuh yang penuh cinta, ibu dan anak dapat membangun kehidupan yang sehat dan bermakna.
Referensi:
Santrock, J. W. (2019). Life-Span Development.
UNICEF. (2021). Single Parenting and Child Well-being.
Kementerian PPA. (2020). Panduan Pengasuhan Anak dalam Keluarga Tunggal.
Created
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai.
SDGs terkait: SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 5 Kesetaraan Gender