Bermain Tradisional Kalah Manfaat Dibandingkan Permainan Digital: Mitos atau Fakta
Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam cara anak bermain. Gawai, aplikasi, dan permainan digital kini menjadi bagian dari keseharian anak, bahkan sejak usia dini. Di sisi lain, permainan tradisional mulai jarang terlihat dan sering dianggap ketinggalan zaman. Muncul anggapan bahwa bermain tradisional kalah manfaat dibandingkan permainan digital, sebuah pernyataan yang perlu dikaji secara kritis.
Bermain pada dasarnya adalah aktivitas alami anak yang berfungsi sebagai sarana belajar. Melalui bermain, anak mengembangkan aspek fisik, kognitif, sosial, emosional, dan moral. Baik permainan tradisional maupun digital sama-sama memiliki potensi manfaat, tergantung pada bagaimana permainan tersebut digunakan dan didampingi oleh orang dewasa.
Permainan tradisional seperti engklek, gobak sodor, congklak, atau petak umpet melibatkan gerak tubuh, interaksi sosial, serta aturan sederhana yang disepakati bersama. Anak belajar bekerja sama, menunggu giliran, menerima kekalahan, dan mengelola emosi secara langsung. Aktivitas fisik dalam permainan ini juga mendukung kesehatan dan perkembangan motorik anak.
Sementara itu, permainan digital menawarkan stimulasi visual dan audio yang menarik. Beberapa permainan digital edukatif dirancang untuk melatih logika, kemampuan memecahkan masalah, dan literasi teknologi. Anak dapat belajar mengenal angka, huruf, atau konsep sains dengan cara yang interaktif dan menyenangkan.
Masalah muncul ketika permainan digital digunakan secara berlebihan dan tanpa pendampingan. Anak berisiko mengalami kurang gerak, keterampilan sosial yang terbatas, serta ketergantungan pada layar. Dalam konteks ini, permainan digital bukan menjadi alat belajar, melainkan sekadar hiburan pasif.
Anggapan bahwa bermain tradisional kalah manfaat dibandingkan permainan digital dapat disebut sebagai mitos. Faktanya, permainan tradisional memiliki keunggulan unik yang sulit digantikan oleh permainan digital, terutama dalam hal interaksi sosial langsung dan pembentukan karakter seperti sportivitas dan empati.
Sebagai contoh, anak yang bermain gobak sodor belajar strategi, komunikasi tim, dan kejujuran saat bermain. Nilai-nilai ini muncul secara alami tanpa perlu instruksi formal. Hal serupa sulit diperoleh jika anak bermain sendiri dengan gawai dalam waktu lama.
Namun demikian, bukan berarti permainan digital sepenuhnya buruk. Permainan digital dapat menjadi pelengkap jika digunakan secara bijak, terjadwal, dan sesuai usia. Keseimbangan antara permainan tradisional dan digital menjadi kunci dalam mendukung perkembangan anak secara holistik.
Peran orang tua dan pendidik sangat penting dalam mengarahkan aktivitas bermain anak. Dengan memberikan ruang bagi permainan tradisional sekaligus memanfaatkan teknologi secara positif, anak dapat memperoleh manfaat maksimal dari kedua dunia.
Kesimpulannya, pernyataan bahwa bermain tradisional kalah manfaat dibandingkan permainan digital lebih tepat disebut sebagai mitos. Keduanya memiliki manfaat masing-masing, namun permainan tradisional tetap relevan dan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Referensi: Pellegrini, A. D. 2009. The Role of Play in Human Development. Kemdikbud. 2018. Permainan Tradisional Anak Indonesia. Hirsh-Pasek, K., et al. 2015. Learning Through Play.
Created: Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah, Tulisan Dibuat Oleh : Ai.
Artikel ini selaras dengan SDGs tujuan ke-4 Quality Education yang menekankan pendidikan berkualitas dan perkembangan anak secara holistik.