Bermain Tanpa Takut Salah: Peran Guru dalam Mencegah Guilt Feeling pada Anak
Anak-anak usia dini berada pada tahap perkembangan ketika mereka mulai memahami aturan, batasan, dan dampak dari tindakan mereka. Pada fase ini, sangat mudah bagi anak merasa bersalah berlebihan (guilt feeling) ketika melakukan kesalahan kecil, seperti menjatuhkan mainan atau tidak sengaja merusak hasil karya temannya. Di sinilah peran guru sangat penting untuk menciptakan ruang bermain yang aman secara emosional dan suportif, sehingga anak dapat belajar tanpa takut disalahkan.
Guilt feeling yang berlebihan sering muncul karena anak merasa tekanan dari lingkungan—baik dari orang dewasa ataupun teman sebaya. Guru dapat membantu mencegah hal ini dengan memberikan penjelasan sederhana bahwa kesalahan adalah bagian alami dari proses belajar. Misalnya, saat anak menumpahkan air saat bermain sensorik, guru dapat berkata, “Tidak apa-apa, kita bisa bersihkan bersama. Ini bagian dari belajar.” Respon ini membantu anak melihat masalah sebagai hal yang bisa diselesaikan, bukan sebagai kegagalan.
Suasana kelas yang suportif juga terbentuk dari cara guru mendampingi permainan. Guru dapat menggunakan pendekatan emotion coaching untuk membantu anak mengenali perasaannya. Ketika anak terlihat cemas karena merasa membuat kesalahan, guru bisa mendekat, memberi sentuhan lembut di bahu, dan berkata, “Kamu kelihatan khawatir. Bisa ceritakan apa yang kamu rasakan?” Dengan cara ini, anak belajar bahwa emosi boleh muncul dan ada orang dewasa yang siap membantunya memahami situasi.
Permainan yang aman dan terbuka sangat mendukung tumbuhnya rasa percaya diri. Guru dapat mengatur aktivitas yang tidak berfokus pada hasil, tetapi pada proses, seperti permainan blok, bermain pasir, atau permainan peran. Saat bermain blok misalnya, anak kerap kesal ketika menara yang dibuatnya roboh. Guru dapat memberikan scaffolding seperti, “Menaranya roboh ya, kita coba cari cara membuatnya lebih kuat. Ayo, kita coba bareng.” Anak merasa dihargai dan difasilitasi, bukan dihakimi.
Contoh lain adalah saat bermain kelompok. Anak mungkin merasa bersalah jika tidak mengikuti instruksi teman. Guru bisa melibatkan anak untuk memahami bahwa setiap orang punya cara berbeda dalam bermain. “Kalian sedang belajar bekerja sama. Kadang tidak langsung sama, tapi kalian bisa bicara pelan-pelan.” Pendekatan ini membantu anak melihat interaksi sosial sebagai ruang belajar, bukan sumber tekanan.
Guru juga berperan menciptakan aturan kelas yang positif, bukan menakut-nakuti. Alih-alih berkata “Jangan sampai salah!” guru bisa menggantinya dengan “Coba dulu, kalau belum berhasil kita ulang lagi.” Kalimat ini memberi ruang bagi anak untuk mencoba, bereksperimen, dan belajar tanpa rasa takut.
Lingkungan fisik pun mempengaruhi suasana emosional anak. Area bermain yang tertata rapi, material yang mudah dijangkau, serta sudut tenang untuk menenangkan diri dapat membantu anak merasa aman. Ketika anak punya ruang untuk memproses emosi, ia tidak mudah merasa bersalah dan lebih mampu mengelola dirinya.
Dukungan guru kepada orang tua juga penting. Orang tua sering tanpa sadar menanamkan rasa bersalah melalui kalimat seperti, “Lihat, kamu bikin repot,” atau “Kamu salah terus.” Guru dapat memberikan literasi pola komunikasi yang lebih suportif, sehingga pola yang sama terbawa di rumah dan sekolah.
Pada akhirnya, anak yang terbiasa bermain dalam suasana aman dan suportif akan berkembang menjadi individu yang percaya diri, mampu menghadapi kesalahan, dan tidak mudah menyalahkan diri. Inilah pondasi penting bagi ketahanan emosi mereka di masa depan.