Bermain, Belajar, dan Algoritma: Artificial Intelligence dalam Dunia PAUD
Cover edited
Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan mulai hadir dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan anak usia dini. Kehadirannya sering memunculkan rasa penasaran sekaligus kekhawatiran, terutama tentang bagaimana teknologi cerdas ini dapat berdampingan dengan dunia anak yang lekat dengan bermain dan interaksi langsung.
Secara pengertian, Artificial Intelligence adalah sistem atau teknologi yang dirancang untuk meniru cara berpikir manusia, seperti mengenali pola, mengambil keputusan, dan belajar dari pengalaman. Dalam konteks PAUD, AI bukan pengganti guru, melainkan alat bantu yang mendukung proses belajar anak.
Penggunaan AI dalam PAUD biasanya hadir dalam bentuk aplikasi belajar interaktif, mainan edukatif berbasis sensor, atau platform digital yang menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan anak. Anak belajar sambil bermain, sementara sistem secara otomatis menyesuaikan tantangan yang diberikan.
Contoh sederhana dapat dilihat pada aplikasi membaca yang mampu mengenali suara anak saat melafalkan huruf. Aplikasi tersebut memberi umpan balik langsung, sehingga anak merasa didampingi tanpa tekanan.
AI juga dapat membantu guru dalam memahami perkembangan anak. Melalui data aktivitas belajar, guru dapat melihat pola minat, kecepatan belajar, dan area yang perlu distimulasi lebih lanjut.
Namun, penting untuk menempatkan AI secara bijak. Anak usia dini tetap membutuhkan sentuhan emosional, interaksi sosial, dan pengalaman sensorik nyata yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.
Peran guru dan orang tua menjadi kunci dalam menyeimbangkan penggunaan AI. Teknologi digunakan sebagai pelengkap, bukan pusat pembelajaran. Interaksi manusia tetap menjadi fondasi utama PAUD.
Dalam praktiknya, AI dapat membantu inklusivitas. Anak dengan kebutuhan khusus dapat memperoleh dukungan belajar yang lebih personal melalui teknologi adaptif.
Meski demikian, tantangan seperti akses teknologi, literasi digital pendidik, dan etika penggunaan data anak perlu menjadi perhatian serius.
Pendekatan yang tepat adalah mengenalkan AI sebagai alat eksplorasi, bukan konsumsi pasif. Anak diajak bertanya, mencoba, dan berdiskusi sederhana tentang apa yang mereka lihat dan dengar.
Dengan pendampingan yang hangat, AI justru dapat memperkaya pengalaman belajar anak tanpa menghilangkan esensi bermain dan berinteraksi.
Artificial Intelligence dalam PAUD pada akhirnya bukan soal kecanggihan teknologi, melainkan tentang bagaimana manusia menggunakannya untuk mendukung tumbuh kembang anak secara utuh.
Referensi:
Luckin, R. (2018). Machine Learning and Human Intelligence. UCL Institute of Education.
OECD. (2021). Artificial Intelligence in Education. OECD Publishing.
UNESCO. (2023). Guidance on Generative AI and Education. UNESCO.
Created
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai
SDGs terkait: SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 9 Industri Inovasi dan Infrastruktur