Belajar Sejarah Lokal Melalui Cerita dan Tempat Bersejarah
Belajar sejarah sering kali dibayangkan sebagai aktivitas menghafal tanggal dan nama tokoh. Padahal, untuk anak usia dini, sejarah justru bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan, penuh rasa ingin tahu, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu cara paling efektif memperkenalkan sejarah pada anak adalah melalui cerita dan kunjungan ke tempat bersejarah di sekitar mereka.
Anak usia 3–6 tahun berada pada tahap perkembangan yang sangat sensitif terhadap cerita. Mereka mudah larut dalam alur dan tokoh, bahkan saat tokoh tersebut berasal dari masa lalu. Karena itu, sejarah lokal dapat menjadi “pintu masuk” terbaik untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap kota tempat mereka tumbuh. Misalnya, anak-anak di Sidoarjo dapat dikenalkan pada legenda Joko Kendil atau kisah asal-usul Kota Delta yang diceritakan dengan bahasa sederhana dan ilustrasi menarik.
Cerita mampu mengikat emosi anak. Ketika anak mendengar kisah tentang tokoh yang berjuang, bekerja sama, atau mencintai lingkungannya, mereka akan jauh lebih mudah memahami nilai-nilai sejarah dibandingkan jika hanya melihat teks. Cerita juga memungkinkan orang tua atau guru menyesuaikan bahasa agar sesuai kemampuan memahami anak usia dini.
Selain melalui cerita, mengajak anak mengunjungi tempat bersejarah memberikan pengalaman yang lebih konkret. Misalnya, mengajak mereka ke museum kota, alun-alun tua, situs peninggalan kerajaan, atau candi. Menyentuh batu candi, melihat patung, atau mengamati benda-benda lama akan membantu anak memahami bahwa sejarah adalah nyata—bukan hanya cerita fiksi.
Sebuah contoh sederhana: ketika seorang guru PAUD mengajak anak-anak berkunjung ke Museum Mpu Tantular, ia bisa mengaitkan pengalaman tersebut dengan cerita yang sudah dibacakan sebelumnya. Anak akan berkata, “Oh, ini seperti di cerita itu!” Momen penghubungan seperti ini sangat penting untuk mengembangkan pemahaman konseptual anak.
Cerita dan tempat bersejarah juga membantu mengembangkan literasi budaya sejak dini. Anak mulai mengenal simbol-simbol budaya, tradisi lokal, dan nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun. Pembelajaran seperti ini dapat menumbuhkan rasa cinta pada lingkungan sekitar dan mendorong mereka menjadi warga yang peduli.
Tidak kalah penting, belajar sejarah lokal dapat melatih kemampuan bahasa. Ketika anak mendeskripsikan apa yang mereka lihat di tempat bersejarah, kemampuan verbal mereka berkembang. Mereka belajar menyusun cerita versi mereka sendiri, yang merupakan salah satu fondasi literasi.
Orang tua dan guru dapat menerapkan kegiatan sederhana di rumah atau sekolah, seperti membuat buku mini tentang sejarah kota, menggambar ulang tempat bersejarah, atau memainkan permainan peran. Aktivitas ini membuat sejarah terasa “hidup” dan menyenangkan bagi balita.
Dengan pendekatan yang hangat dan bermain, sejarah tidak lagi terasa berat. Ia berubah menjadi jendela yang memperkaya dunia anak: memperluas imajinasi, memperkuat identitas, dan menumbuhkan kecintaan pada budaya lokal. Dan yang paling penting, proses ini menghubungkan anak dengan tempat mereka tumbuh—sebuah fondasi yang penting untuk karakter dan rasa memiliki.