Bermain eksplorasi lingkungan sekitar sering kali dipandang sebagai aktivitas sederhana, padahal kegiatan ini memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan anak. Lingkungan terdekat seperti halaman rumah, gang, sawah, pasar, atau taman menyediakan ruang belajar yang alami dan bermakna. Melalui eksplorasi, anak tidak sekadar bermain, tetapi membangun pemahaman awal tentang dunia tempat ia hidup.
Pada masa kanak-kanak, rasa ingin tahu berkembang sangat pesat. Bermain eksplorasi memberi kesempatan bagi anak untuk bertanya, mencoba, dan menemukan jawaban melalui pengalaman langsung. Ketika anak mengamati semut di halaman rumah, misalnya, ia sedang belajar tentang makhluk hidup, gerak, dan kerja sama tanpa harus menerima penjelasan abstrak yang panjang. Proses ini selaras dengan cara belajar anak yang berbasis pengalaman konkret.
Aktivitas eksplorasi lingkungan sangat mendukung perkembangan kognitif. Anak belajar mengelompokkan benda, mengenali perbedaan, serta memahami hubungan sebab-akibat. Saat anak membandingkan daun kering dan daun segar, ia sedang mengembangkan kemampuan berpikir logis melalui interaksi langsung dengan objek nyata, sebagaimana dijelaskan dalam teori perkembangan kognitif Piaget.
Dari sisi motorik, eksplorasi lingkungan mendorong anak untuk bergerak aktif. Berjalan di jalan setapak, memungut batu kecil, atau menaiki tangga rendah melatih keseimbangan, koordinasi, dan kekuatan otot. Gerakan yang beragam ini berperan penting dalam membangun fondasi perkembangan fisik yang sehat dan terintegrasi.
Bermain eksplorasi juga memperkaya pengalaman sensorik anak. Anak mencium aroma tanah basah, merasakan tekstur air, mendengar suara burung atau kendaraan, serta melihat variasi warna di sekitarnya. Stimulasi multisensorik ini membantu otak anak mengolah dan mengintegrasikan informasi secara lebih optimal.
Interaksi sosial muncul secara alami ketika anak mengeksplorasi lingkungan bersama teman atau orang dewasa. Anak belajar berbagi penemuan, berdiskusi sederhana, dan menegosiasikan aktivitas. Misalnya, saat berkunjung ke pasar tradisional, anak belajar berkomunikasi, mengenal peran sosial, dan memahami fungsi orang-orang di sekitarnya secara kontekstual.
Pendekatan ini juga memiliki landasan kuat dalam teladan Rasulullah SAW. Dalam berbagai riwayat sirah dan hadis sahih, Hasan dan Husain, cucu Rasulullah, dibiarkan bermain dan bergerak bebas di sekitar beliau. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad, diceritakan bahwa Hasan dan Husain pernah naik ke punggung Rasulullah ketika beliau sedang sujud, dan Rasulullah memperpanjang sujudnya agar keduanya puas bermain. Riwayat ini menunjukkan bahwa eksplorasi dan aktivitas fisik anak tidak dipandang sebagai gangguan, melainkan bagian penting dari tumbuh kembang yang perlu dihormati dan difasilitasi.
Dalam kitab Sirah Nabawiyah karya Ibnu Katsir dan Ibnu Hisyam, juga digambarkan bagaimana Rasulullah membiarkan cucu-cucunya berinteraksi dengan lingkungan sekitar masjid dan rumah tanpa pembatasan berlebihan, selama tetap dalam pengawasan. Sikap ini mencerminkan pengakuan terhadap kebutuhan anak untuk bergerak, bereksplorasi, dan belajar melalui pengalaman langsung.
Lingkungan sekitar juga menjadi media pembelajaran nilai dan karakter. Anak belajar kepedulian, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap alam. Ketika anak diajak menyiram tanaman atau membersihkan halaman, mereka belajar merawat ruang bersama dan memahami bahwa tindakan kecil memiliki dampak bagi lingkungan. Nilai ini sejalan dengan pendidikan karakter dan pembentukan akhlak sejak usia dini.
Dengan demikian, bermain eksplorasi lingkungan bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan strategi pendidikan yang selaras dengan teori perkembangan anak dan teladan Rasulullah SAW. Anak diberi ruang untuk tumbuh secara utuh: kognitif, fisik, sosial, emosional, dan moral.
Penulis: Faizatun Nikmah dan Nurlaili Firda Yuniar
Editor: Nurlaili Firda Yuniar
Daftar Pustaka: