Belajar Berbagi di Hari Natal: Mengajarkan Anak Arti Kebaikan dan Empati
Hari Natal selalu identik dengan keceriaan, hadiah, dan kebersamaan keluarga. Namun di balik gemerlap pohon dan kado berwarna-warni, terdapat makna yang lebih dalam — belajar berbagi dan menumbuhkan empati. Bagi anak usia dini, momen ini sangat tepat untuk menanamkan nilai-nilai moral dan sosial yang akan menjadi fondasi karakter mereka di masa depan.
Membiasakan anak berbagi bukan sekadar mengajarkan mereka untuk memberi barang, tetapi untuk memahami perasaan orang lain. Menurut Jean Piaget, anak pada usia praoperasional (2–7 tahun) masih berada pada tahap egosentris, di mana mereka sulit melihat sudut pandang orang lain. Karena itu, kegiatan berbagi saat Natal menjadi sarana alami bagi mereka untuk mulai belajar bahwa kebahagiaan juga bisa muncul saat membuat orang lain tersenyum.
Kegiatan sederhana seperti mengajak anak membungkus hadiah untuk teman, berbagi kue dengan tetangga, atau menyumbangkan mainan yang sudah tidak digunakan dapat menjadi pengalaman bermakna. Melalui aktivitas itu, anak belajar bahwa tindakan kecil bisa membawa kebahagiaan besar bagi orang lain.
Selain menumbuhkan empati, berbagi juga memperkuat nilai spiritual dan sosial. Dalam konteks pendidikan karakter di PAUD, kegiatan ini membantu anak memahami konsep memberi tanpa pamrih dan menumbuhkan rasa syukur atas apa yang dimiliki. Menurut penelitian UNICEF (2022), anak-anak yang terbiasa berempati sejak dini cenderung lebih toleran, peduli terhadap sesama, dan memiliki kemampuan sosial yang lebih baik di masa remaja.
Libur Natal juga menjadi kesempatan emas bagi orang tua untuk menjadi model perilaku. Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibanding apa yang mereka dengar. Ketika orang tua menunjukkan sikap berbagi — misalnya mengunjungi panti asuhan atau membantu tetangga — anak akan meniru dan menanamkan nilai itu sebagai bagian dari dirinya.
Di sekolah, guru dapat mengemas tema berbagi dalam kegiatan bermain peran. Misalnya, anak berpura-pura menjadi Santa Claus yang memberi hadiah, atau bermain “toko amal” di mana mereka belajar memberikan barang kepada teman yang “membutuhkan.” Aktivitas seperti ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membangun kemampuan sosial-emosional, sesuai dengan kompetensi PAUD yang menekankan pembentukan karakter positif.
Dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs), nilai berbagi sejalan dengan tujuan SDG 4: Pendidikan Berkualitas yang menekankan pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan, serta SDG 16: Perdamaian dan Keadilan yang menumbuhkan rasa empati dan solidaritas antarindividu. Dengan mengajarkan anak berbagi sejak dini, kita berkontribusi membangun generasi yang lebih peduli dan adil.
Namun, penting untuk diingat bahwa empati tidak tumbuh dalam semalam. Anak perlu pengalaman berulang untuk memahami perasaan orang lain. Orang tua dan guru harus terus memberikan contoh nyata dan pujian positif ketika anak menunjukkan kepedulian. Misalnya, dengan mengatakan, “Kamu membuat temanmu senang, ya, ketika kamu membagi mainanmu.” Kalimat sederhana ini memperkuat perilaku positif.
Berbagi juga melatih anak mengelola emosi. Mereka belajar menunda keinginan pribadi demi kebahagiaan orang lain. Hal ini menjadi dasar penting dalam pengendalian diri dan pembentukan karakter prososial. Di era modern yang sering menekankan persaingan, anak-anak yang tumbuh dengan nilai empati akan memiliki keunggulan dalam membangun hubungan sosial dan kerja sama di masa depan.
Pada akhirnya, makna Natal bukan sekadar tentang menerima, tetapi tentang memberi dengan hati yang tulus. Ketika anak memahami bahwa kebaikan kecil mereka bisa membuat dunia lebih hangat, maka kita sedang menanamkan benih perdamaian sejak dini. Karena sejatinya, berbagi adalah bahasa universal kasih yang tak lekang oleh waktu.