Balita dan Batasan: Seni Mengatakan “Tidak Boleh” dengan Hangat
Mengasuh balita memang seperti naik roller-coaster emosional. Satu menit mereka tertawa, menit berikutnya mereka bisa menangis hanya karena warna piringnya tidak sesuai keinginan. Di fase ini, mereka sedang gencar mengeksplorasi, mencoba memahami dunia, dan mencari tahu apa saja aturan di dalamnya. Maka, memberi batasan menjadi bagian penting dari tumbuh kembang mereka.
Namun, mengatakan “tidak boleh” kepada balita sering kali memicu drama kecil. Mereka belum memahami sepenuhnya alasan di balik larangan, sementara dorongan eksplorasinya sangat kuat. Jadi, tantangannya bukan hanya memberi larangan, tapi bagaimana cara menyampaikannya dengan hangat sehingga anak merasa aman, bukan terancam.
Kuncinya adalah nada suara dan gestur. Saat orang tua mengatakan “tidak boleh memukul,” sambil berlutut sejajar dengan mata anak, suara lembut namun tegas, anak lebih mampu menerima pesan tersebut. Dibanding ketika larangan disampaikan sambil berteriak dari kejauhan, anak justru lebih fokus pada emosi negatif, bukan pada aturan yang sedang diajarkan.
Contoh nyata: Bimo, 3 tahun, suka melempar mainan ketika kesal. Ibunya mencoba pendekatan baru. Alih-alih memarahi, ia berkata, “Tidak boleh lempar mobilnya, sayang. Bisa bikin sakit. Kalau mau marah, kamu bisa pukul bantal ini.” Hasilnya? Dalam beberapa minggu, Bimo mulai mencari bantal saat marah. Batasan tetap ditegakkan, tetapi dengan alternatif yang aman.
Balita sebenarnya menyukai rutinitas dan kepastian. Ketika orang tua konsisten dalam memberi batasan, anak justru merasa lebih aman. Sebaliknya, jika hari ini “tidak boleh makan sambil lari,” tetapi besok dibiarkan, anak akan bingung dan menganggap batasan sebagai sesuatu yang fleksibel tergantung mood orang tua.
Beberapa balita memang akan tetap menangis saat diberi batasan, dan itu normal. Nangis bukan berarti mereka menolak belajar. Itu hanya cara mereka mengeluarkan frustasi. Orang tua bisa tetap berada di dekat anak sambil mengatakan, “Ibu tahu kamu kesal. Tidak apa-apa marah. Tapi tetap tidak boleh lempar gelas.” Sikap tenang orang tua membantu anak mempelajari regulasi emosi secara alami.
Menerapkan batasan hangat bukan tentang membuat anak selalu setuju. Kadang mereka tetap menolak. Tapi hubungan yang aman terbangun ketika anak tahu bahwa orang tuanya tegas sekaligus penuh kasih. Mereka belajar bahwa aturan bukan hukuman, tetapi perlindungan.
Dalam dunia yang makin cepat, orang tua mungkin merasa tidak punya waktu menghadapi tantrum. Tapi batasan yang konsisten di usia dini justru mempermudah kehidupan di tahap berikutnya. Anak belajar mengontrol diri, memahami konsekuensi, dan menghormati orang lain. Semua itu berawal dari cara kita mengucapkan “tidak boleh.”
Orang tua pun perlu mengingat bahwa mereka tidak harus sempurna. Ada hari ketika energi penuh, dan ada hari di mana sabar terasa menipis. Yang penting adalah kembali pada tujuan awal: memberi batasan dengan cinta. Dengan pendekatan hangat, “tidak boleh” dapat menjadi jembatan pembelajaran, bukan sumber ketakutan.