Antara Gamelan dan Lagu Viral: Siapa Sebenarnya yang Kalah?
Musik viral hadir cepat, menyebar luas, dan akrab di telinga anak maupun orang dewasa. Dalam hitungan hari, sebuah lagu bisa dikenal luas lewat media sosial dan diputar berulang tanpa henti.Di sisi lain, musik tradisional sering dianggap kalah pamor. Gamelan, angklung, kolintang, atau musik daerah lain dinilai kuno dan kurang relevan dengan kehidupan anak masa kini.
Pandangan ini memunculkan anggapan bahwa musik tradisional memang kalah oleh musik viral. Namun, benarkah demikian jika dilihat dari sudut pandang pendidikan? Musik tradisional adalah musik yang tumbuh dari budaya lokal dan diwariskan lintas generasi. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, keteraturan, dan identitas budaya yang kuat.
Sementara itu, musik viral umumnya diciptakan untuk hiburan instan. Irama sederhana dan lirik mudah diingat membuatnya cepat disukai, termasuk oleh anak-anak.Dalam pembelajaran, musik tradisional memiliki fungsi yang lebih luas. Anak tidak hanya bernyanyi, tetapi juga belajar mendengar, bekerja sama, dan memahami konteks budaya.
Sebagai contoh, saat anak memainkan angklung atau gamelan sederhana, mereka harus menunggu giliran dan mengikuti tempo bersama. Ini berbeda dengan menyanyikan lagu viral yang cenderung individual.Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa musik viral lebih dekat dengan keseharian anak. Anak sering mendengarnya di rumah, televisi, atau gawai orang tua.
Masalahnya bukan pada musik viral itu sendiri, melainkan pada minimnya ruang bagi musik tradisional di lingkungan belajar dan keluarga.Jika musik tradisional jarang dikenalkan, anak tentu akan lebih memilih musik yang sering mereka dengar. Ini soal eksposur, bukan soal kualitas.Guru dan orang tua memiliki peran penting untuk menjembatani keduanya. Musik tradisional bisa dikemas lebih kreatif tanpa kehilangan nilai budayanya.
Misalnya, guru mengajak anak bergerak mengikuti irama gamelan atau mengaitkan lagu tradisional dengan permainan. Dengan cara ini, musik tradisional terasa hidup dan menyenangkan.Musik viral dapat menjadi pintu masuk, sementara musik tradisional menjadi pendalaman. Keduanya tidak harus saling menyingkirkan.Dalam pendidikan, tujuan utama bukan memilih yang paling populer, tetapi yang paling bermakna bagi perkembangan anak.Dengan pendekatan yang tepat, musik tradisional tidak kalah oleh musik viral, justru saling melengkapi dalam pengalaman belajar anak.
Referensi:
Suyanto, S. 2005. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.
Campbell, D. 2002. The Mozart Effect for Children.
Kemdikbud. 2020. Pembelajaran Seni Budaya di PAUD.
Created:
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai
Artikel ini berkaitan dengan SDGs tujuan ke-4 Quality Education dan tujuan ke-11 Sustainable Cities and Communities.