Andhap Asor dalam Pola Asuh Jawa: Menanam Rendah Hati Sejak Dini
Pola asuh Jawa dikenal dengan nilai-nilai halus yang diwariskan lintas generasi, salah satunya adalah konsep andhap asor. Istilah ini merujuk pada sikap rendah hati, tidak meninggikan diri, serta kemampuan menempatkan diri secara bijaksana dalam relasi sosial. Dalam pengasuhan anak, andhap asor bukan sekadar ajaran sopan santun, melainkan fondasi penting dalam pembentukan karakter sejak usia dini.
Sejak kecil, anak-anak Jawa dikenalkan pada bahasa dan perilaku yang mencerminkan kerendahan hati. Cara berbicara yang lembut, penggunaan unggah-ungguh basa, serta kebiasaan menurunkan nada suara ketika berbicara dengan orang yang lebih tua menjadi praktik sehari-hari. Melalui pembiasaan ini, anak belajar bahwa menghormati orang lain merupakan bagian dari penghargaan terhadap diri sendiri.
Pola asuh Jawa sangat menekankan keteladanan. Orang tua tidak hanya memberi nasihat, tetapi menghadirkan contoh nyata dalam bersikap andhap asor. Ketika orang tua berani meminta maaf kepada anak atas kesalahan yang dilakukan, anak menangkap pesan bahwa kerendahan hati adalah bentuk kedewasaan emosional, bukan kelemahan.
Nilai ini sejalan dengan teladan akhlak Rasulullah SAW. Dalam berbagai riwayat sirah, Rasulullah dikenal sebagai sosok yang sangat rendah hati meskipun memiliki kedudukan tertinggi sebagai nabi dan pemimpin umat. Salah satu bukti nyata adalah kebiasaan Rasulullah membantu pekerjaan rumah tangga, duduk dan makan bersama para sahabat tanpa pembeda, serta menerima pendapat orang lain, termasuk dari kalangan yang lebih muda. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah menegaskan bahwa sikap tawaduk tidak akan mengurangi kemuliaan seseorang, justru akan meninggikannya di sisi Allah. Teladan ini menunjukkan bahwa rendah hati adalah kekuatan moral yang membangun relasi sosial yang sehat.
Para sahabat Nabi juga mencontohkan nilai serupa. Umar bin Khattab, misalnya, dikenal sebagai pemimpin yang tegas tetapi tetap rendah hati. Ia tidak segan menegur dirinya sendiri dan menerima kritik dari rakyat biasa. Sikap ini memperlihatkan bahwa kerendahan hati berjalan seiring dengan tanggung jawab dan keberanian moral, nilai yang juga selaras dengan prinsip andhap asor dalam budaya Jawa.
Dalam konteks keluarga besar Jawa, nilai andhap asor tampak ketika anak diajak berinteraksi dengan kakek-nenek, paman, bibi, dan tetangga. Anak dibiasakan menyapa, mendengarkan dengan penuh perhatian, serta tidak memotong pembicaraan. Pengalaman ini membantu anak memahami struktur sosial, mengembangkan empati, dan belajar mengelola emosi melalui interaksi nyata.
Nilai andhap asor berperan penting dalam perkembangan sosial-emosional anak. Anak yang tumbuh dengan sikap rendah hati cenderung lebih mudah bekerja sama, menerima perbedaan, dan menyelesaikan konflik secara damai. Dalam permainan bersama teman sebaya, anak belajar tidak selalu ingin menang atau menonjolkan diri, melainkan menghargai kebersamaan.
Dalam pendidikan anak usia dini, konsep andhap asor relevan untuk membangun iklim kelas yang positif. Guru dapat mengintegrasikannya melalui pembiasaan sederhana seperti menunggu giliran berbicara, menghargai pendapat teman, dan membantu tanpa pamer. Nilai budaya ini menjadi pelengkap yang kontekstual dalam pendidikan karakter berbasis nilai lokal dan religius.
Namun, andhap asor kerap disalahpahami sebagai sikap pasif atau kurang percaya diri. Padahal, dalam pandangan budaya Jawa dan ajaran Islam, rendah hati berjalan seiring dengan kesadaran diri dan tanggung jawab. Anak tetap didorong untuk berani berpendapat dan menunjukkan kemampuan, tetapi dengan cara yang santun serta menghargai orang lain. Inilah keseimbangan antara percaya diri dan kerendahan hati yang menjadi inti pembentukan karakter.
Penulis: Faizatun Nikmah dan Nurlaili Firda Yuniar
Editor: Nurlaili Firda Yuniar
Sumber: