Anak sebagai Co-Teacher: Apakah Anak Usia Dini Bisa Mengajar Teman Sebaya?
Konsep anak sebagai co-teacher merujuk pada situasi ketika anak usia dini berperan sebagai “rekan guru” yang membantu menjelaskan, menunjukkan, atau memodelkan suatu keterampilan kepada teman sebayanya. Pendekatan ini berangkat dari gagasan bahwa anak-anak tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga memiliki kapasitas untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta strategi belajar yang mereka pahami. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, co-teaching antar anak dapat muncul secara spontan, seperti saat seorang anak menunjukkan cara menggunakan gunting dengan benar kepada temannya, atau muncul dalam kegiatan yang dirancang oleh guru, misalnya sesi “teman ahli” di mana anak tertentu diberi kesempatan berbagi kemampuan spesifik.
Dari perspektif perkembangan, kemampuan anak usia dini untuk mengajar teman sebaya sangat mungkin terjadi. Anak-anak pada usia ini memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, imajinasi yang kaya, serta kecenderungan meniru dan memodelkan perilaku yang mereka lihat. Ketika mereka mengajar teman sebayanya, mereka sebenarnya sedang memproses ulang pengetahuan yang dimiliki, memperkuat pemahaman, sekaligus melatih keterampilan komunikasi. Selain itu, anak sering kali lebih nyaman belajar dari teman sebaya karena bahasa yang digunakan lebih sederhana, pendekatan yang lebih santai, dan adanya rasa kebersamaan.
Peran anak sebagai co-teacher juga membawa manfaat sosial-emosional. Anak belajar kepemimpinan, empati, kesabaran, dan kemampuan bekerja sama. Di sisi lain, anak yang belajar dari temannya dapat merasa lebih percaya diri karena proses belajarnya terjadi dalam suasana yang akrab dan tidak mengintimidasi. Guru tetap memiliki peran penting sebagai fasilitator yang memastikan proses ini berjalan aman, inklusif, dan terarah.
Trivia Menarik tentang Anak sebagai Co-Teacher:
-
Anak berusia 4–6 tahun sudah mampu memberikan instruksi sederhana dan memberikan umpan balik kepada temannya.
-
Belajar dari teman sebaya dapat meningkatkan pemahaman anak hingga 20–30% lebih efektif dibandingkan belajar satu arah dari guru.
-
Anak cenderung lebih fokus ketika temannya yang memberi contoh, karena interaksi terasa seperti permainan, bukan “belajar formal”.
-
Pendekatan peer teaching dapat menumbuhkan motivasi intrinsik karena anak merasa dihargai dan dipercaya.