Anak dan Alam: Mengapa Bermain Tanah Penting?
Bagi sebagian orang tua modern, melihat anak terkena tanah mungkin langsung menimbulkan refleks panik: “Aduh, nanti kotor!” atau “Nanti kena kuman!” Padahal, justru di balik aktivitas sederhana yang membuat baju penuh noda itu, ada banyak manfaat besar yang mendukung tumbuh kembang anak. Bermain tanah bukan sekadar aktivitas jadul, tetapi bagian penting dari proses belajar alami yang semakin jarang ditemui di tengah kehidupan serbadigital.
Saat anak memasukkan tangannya ke tanah, menggenggamnya, meremasnya, atau membentuknya menjadi bola kecil, mereka sedang melakukan sensory play. Aktivitas ini membantu anak mengenali tekstur, suhu, dan konsep sebab–akibat dengan cara paling langsung. Sensasi tanah basah yang lembut, tanah kering yang mudah hancur, hingga bau khas tanah setelah hujan memberikan pengalaman sensorik yang tak tergantikan oleh mainan pabrik.
Selain stimulasi sensorik, bermain tanah juga melatih motorik halus dan kasar. Misalnya saat anak menggali dengan sekop kecil, mencangkul tanah, atau menata bebatuan menjadi gunung mini. Kegiatan tersebut memperkuat otot tangan dan koordinasi mata–tangan, yang nantinya mendukung keterampilan menulis, memegang alat, hingga aktivitas sehari-hari.
Bermain tanah juga membuka kesempatan emas bagi anak untuk belajar sains secara alami. Mereka mengamati serangga kecil, biji tanaman, akar halus, atau tekstur tanah yang berbeda. Contohnya, seorang anak menemukan cacing lalu bertanya: “Kenapa cacing suka tanah yang basah?” Dari rasa ingin tahu ini, orang tua bisa menjelaskan tentang kelembapan dan habitat makhluk hidup, tanpa harus menunjukkan video YouTube.
Bahkan dari segi kesehatan, penelitian menunjukkan bahwa paparan mikroba alami di tanah dapat membantu membangun daya tahan tubuh anak. Tentu bukan berarti membiarkan anak makan tanah! Tetapi interaksi normal dengan lingkungan alami dapat membantu memperkaya mikrobiota tubuh yang berperan dalam kesehatan imunitas. Jadi, sedikit kotor tidak selalu berbahaya—sering kali justru bermanfaat.
Secara emosional, bermain tanah memberi anak peluang untuk merasa bebas, rileks, dan kreatif. Tanah adalah media yang "tidak menghakimi." Bentuk tanah boleh bagus atau jelek, boleh berantakan, boleh berubah kapan saja. Anak belajar bahwa proses lebih penting daripada hasil—sebuah pelajaran berharga untuk kehidupan jangka panjang.
Di dunia yang dipenuhi gadget dan layar, bermain tanah juga membantu anak mengembangkan koneksi pada alam. Ketika anak terbiasa bersentuhan langsung dengan lingkungan, mereka tumbuh dengan rasa peduli terhadap bumi, menjaga kebersihan, serta menghargai ekosistem. Hal ini terbukti pada berbagai penelitian mengenai pendidikan lingkungan bagi anak usia dini.
Contoh sederhana: seorang anak sering bermain tanah di rumah neneknya. Ia menanam biji mangga, melihatnya tumbuh sedikit demi sedikit, dan merasa bangga ketika daun pertama muncul. Momen kecil ini menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab—nilai yang jauh lebih mendalam daripada sekadar memelihara tanaman virtual di permainan digital.
Lalu bagaimana dengan kekhawatiran orang tua? Kuncinya adalah kebersihan setelah bermain, bukan melarang bermain. Cukup siapkan area bermain yang aman, cuci tangan setelahnya, dan menjaga anak dari kebiasaan memasukkan benda ke mulut. Dengan langkah sederhana ini, anak dapat menikmati manfaat tanpa mengorbankan kesehatan.
Pada akhirnya, bermain tanah adalah kesempatan bagi anak untuk bertumbuh secara sensorik, kognitif, sosial, emosional, dan fisik. Sebuah aktivitas murah, sederhana, dan telah dilakukan manusia sejak ribuan tahun lalu—namun masih sangat relevan untuk tumbuh kembang anak masa kini.