Tidur dengan Rasa Syukur: Rutinitas Malam yang Membentuk Emosi Sehat Anak Usia Dini
Tidur dengan Rasa
Syukur: Rutinitas Malam yang Membentuk Emosi Sehat Anak Usia Dini
Pada anak usia
dini, malam hari bukan sekadar waktu beristirahat. Menjelang tidur merupakan
fase ketika kondisi emosi anak berada pada titik paling tenang dan reseptif.
Pada fase ini, interaksi orang tua memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan
rasa aman, kestabilan emosi, dan kebiasaan psikologis anak. Salah satu praktik
sederhana namun berdampak kuat adalah mengajak anak bersyukur sebelum tidur.
Pengertian
Parenting Sebelum Tidur
Parenting sebelum
tidur adalah rangkaian interaksi terencana antara orang tua dan anak menjelang
waktu tidur yang bertujuan menciptakan ketenangan emosional, kedekatan
relasional, serta internalisasi nilai positif. Dalam kajian pendidikan anak
usia dini, rutinitas malam yang konsisten seperti bercerita, refleksi
pengalaman harian, doa, dan komunikasi afektif terbukti mendukung kesejahteraan
psikologis anak. Nilai syukur menjadi bagian penting dari parenting sebelum
tidur karena berkaitan langsung dengan emosi positif, rasa cukup, dan
ketenangan batin anak.
Pentingnya
Mengajak Anak Bersyukur Sebelum Tidur
Penelitian di
bidang pendidikan dan psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak yang
terbiasa merefleksikan pengalaman positif memiliki regulasi emosi yang lebih
baik, tingkat kecemasan lebih rendah, serta hubungan sosial yang lebih hangat.
Pada anak usia dini, kebiasaan bersyukur sebelum tidur membantu mengurangi
rewel, tantrum malam hari, dan kesulitan tidur. Selain itu, rutinitas ini
meningkatkan kualitas tidur anak yang berdampak langsung pada konsentrasi,
perilaku, dan kesiapan belajar keesokan harinya.
Tujuh
Langkah Konkret Mengajak Anak Bersyukur Sebelum Tidur dan Efek Nyatanya
Langkah pertama adalah membiasakan anak
menyebutkan dua hingga tiga hal baik yang ia alami dalam satu hari. Ketika anak
diajak mengingat pengalaman menyenangkan, otaknya dilatih untuk memusatkan
perhatian pada aspek positif. Jika dilakukan secara konsisten, anak menjadi
lebih jarang fokus pada kejadian negatif dan lebih mudah merasa tenang saat
tidur.
Langkah kedua adalah memberi ruang anak
mengekspresikan rasa syukur melalui gambar atau cerita singkat. Anak dapat
menggambar hal yang membuatnya senang atau menceritakan pengalaman positif hari
itu. Kebiasaan ini membantu anak mengenali dan mengekspresikan emosi secara
sehat. Dalam jangka panjang, anak lebih mampu mengelola perasaan tanpa
meluapkannya dalam bentuk tantrum.
Langkah ketiga adalah mengintegrasikan
rasa syukur ke dalam doa atau kalimat penutup sebelum tidur. Orang tua dapat
mencontohkan kalimat sederhana yang mengekspresikan terima kasih atas hari yang
telah dilalui. Konsistensi praktik ini membuat anak merasa lebih aman secara
emosional dan mengurangi kecemasan saat berpisah dengan orang tua di waktu
tidur.
Langkah keempat adalah mengaitkan rasa
syukur dengan perasaan tubuh yang nyaman. Orang tua dapat membantu anak
menyadari bahwa setelah bersyukur, tubuh terasa lebih rileks dan tenang. Jika
dilakukan terus-menerus, anak akan belajar mengenali sinyal tubuhnya sendiri
dan mampu menenangkan diri secara mandiri.
Langkah kelima adalah menyampaikan
cerita pendek bertema syukur sebelum tidur. Cerita membantu anak memahami
konsep abstrak melalui tokoh dan alur sederhana. Dalam jangka panjang, anak
mengembangkan empati, kemampuan memahami perspektif orang lain, serta sikap
menerima pengalaman hidup dengan lebih positif.
Langkah keenam adalah menggunakan lagu
atau irama lembut bertema rasa syukur. Musik berirama pelan membantu menurunkan
ketegangan fisiologis anak. Jika dilakukan secara rutin, anak akan
mengasosiasikan rasa syukur dengan kondisi relaks sehingga pola tidurnya
menjadi lebih stabil.
Langkah ketujuh adalah melibatkan
seluruh anggota keluarga dalam rutinitas bersyukur sebelum tidur. Ketika anak
melihat orang tua dan anggota keluarga lain juga mengungkapkan rasa syukur,
anak belajar melalui keteladanan. Dalam jangka panjang, nilai syukur tertanam
sebagai budaya keluarga dan memperkuat ikatan emosional antaranggota keluarga.
Trivia
Menarik ! Dampak Konsistensi dalam Jangka Panjang
Penerapan tujuh
langkah ini secara konsisten membantu anak usia dini memiliki kesejahteraan
emosional yang lebih baik, kemampuan regulasi diri yang meningkat, kualitas
tidur yang stabil, serta sikap positif terhadap pengalaman sehari-hari. Anak
dengan kondisi emosi yang stabil dan rasa aman yang kuat cenderung lebih siap
belajar, mudah beradaptasi secara sosial, dan memiliki fondasi karakter yang
sehat sejak dini.
Mengajak anak
bersyukur sebelum tidur tidak membutuhkan ritual yang rumit atau kalimat
panjang. Ungkapan sederhana yang disampaikan dengan suara lembut dan penuh
kehangatan sudah cukup membantu anak menutup harinya dengan rasa tenang dan
aman. Orang tua dapat mencontohkan kalimat syukur seperti,
“Ya Tuhan, terima kasih untuk hari ini, untuk makanan dan semua kebaikan yang aku terima. Aku sudah memaafkan semua kesalahan hari ini, dan aku juga minta maaf atas kesalahanku. Tolong jaga aku saat tidur. Aamiin”

Melalui kebiasaan
sederhana ini, anak belajar mengenali kebaikan dalam keseharian, memaafkan diri
dan orang lain, serta membangun ketenangan emosi yang menjadi fondasi karakter
positif di masa depan.
Penulis: Nurlaili
Firda Yuniar
Editor: Nurlaili
Firda Yuniar
Sumber foto: Unplash.com