Mengatasi Sleep Regression Anak Usia Prasekolah: Hubungan dengan Overweight/Obesity dan Diet
Sleep regression pada anak usia prasekolah adalah kondisi ketika anak yang sebelumnya memiliki pola tidur stabil tiba-tiba mengalami penurunan kualitas tidur, seperti sulit tidur, sering terbangun di malam hari, atau bangun lebih awal dari biasanya. Fenomena ini umumnya terjadi karena perkembangan kognitif yang pesat, perubahan rutinitas, tambahan stres psikologis, maupun rangsangan berlebih sebelum tidur. Meskipun sering dianggap sebagai fase sementara, sleep regression dapat berdampak jangka panjang apabila tidak ditangani, terutama terkait kesehatan fisik anak.
Salah satu aspek yang sering luput diperhatikan adalah hubungannya dengan risiko overweight/obesity pada anak usia prasekolah. Kekurangan tidur terbukti dapat mengganggu regulasi hormon lapar—ghrelin meningkat dan leptin menurun—sehingga anak lebih mudah merasa lapar dan cenderung mengonsumsi makanan tinggi gula atau tinggi kalori. Selain itu, anak yang kurang tidur umumnya memiliki energi lebih rendah di pagi hari, sehingga aktivitas fisiknya menurun. Akumulasi dari pola makan yang tidak terkontrol dan aktivitas fisik yang rendah inilah yang kemudian meningkatkan risiko obesitas. Sebaliknya, obesitas juga dapat memperburuk kualitas tidur, misalnya melalui sleep-disordered breathing, sehingga tercipta siklus yang saling mempengaruhi.
Pola diet turut berperan besar dalam memperparah atau mengurangi risiko sleep regression. Konsumsi makanan tinggi gula, minuman manis, camilan kemasan, serta makanan berlemak tinggi menjelang waktu tidur dapat membuat anak lebih sulit memasuki fase tidur nyenyak. Sebaliknya, pola makan seimbang yang kaya serat, buah, sayur, dan protein berkualitas membantu menjaga stabilitas gula darah dan mendukung kualitas tidur yang lebih baik. Rutinitas makan malam yang teratur, tidak terlalu dekat dengan jam tidur, serta pembatasan konsumsi kafein tersembunyi—seperti pada cokelat—juga penting dalam menjaga ritme tidur anak. Dengan demikian, intervensi nutrisi merupakan langkah strategis dalam mengatasi gangguan tidur sekaligus mencegah obesitas.
Upaya mengelola sleep regression sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3: Good Health and Well-Being dan SDG 2: Zero Hunger. Tidur yang berkualitas, pola makan sehat, dan pencegahan obesitas merupakan bagian dari komitmen global dalam meningkatkan kesejahteraan anak. Selain itu, praktik pengasuhan yang responsif dan edukasi bagi orang tua mengenai pola tidur sehat mendukung SDG 4.2 tentang akses anak usia dini terhadap perkembangan, pengasuhan, dan pendidikan yang bermutu.
Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan orang tua antara lain mempertahankan rutinitas tidur yang konsisten, membatasi screen time setidaknya satu jam sebelum tidur, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman dan gelap, serta menerapkan pola makan sehat sepanjang hari. Jika sleep regression berlangsung lebih dari empat minggu atau diikuti gejala berat seperti mendengkur keras, napas terhenti sesaat, atau perubahan perilaku ekstrem, konsultasi dengan tenaga kesehatan sangat dianjurkan.
Trivia Menarik:
-
Anak prasekolah membutuhkan 10–13 jam tidur per hari, termasuk tidur siang.
-
Studi menunjukkan bahwa kurangnya tidur hanya satu jam per malam selama seminggu dapat meningkatkan preferensi anak terhadap makanan manis.
-
Anak yang tidur lebih awal (sebelum pukul 20.00) memiliki risiko obesitas 50% lebih rendah dibanding anak yang tidur lebih larut.
-
Lingkungan kamar yang terlalu terang—bahkan cahaya kecil layar gadget—dapat mengganggu produksi melatonin, hormon pemicu kantuk.
-
Konsumsi makanan kaya triptofan seperti pisang, susu hangat, atau yogurt dapat membantu anak lebih mudah tidur.