Mengapa Anak Enggan Berbagi: Mendalami Konsep Food Justice dan Empati Sejak Dini
Anak usia dini sering kali terlihat enggan berbagi makanan, baik kepada teman maupun saudara. Perilaku ini bukan selalu tanda bahwa anak “pelit”, tetapi merupakan bagian dari perkembangan psikologis dan pemahaman mereka tentang kepemilikan, kebutuhan dasar, serta rasa aman. Pada masa ini, anak masih belajar bahwa makanan bukan hanya sesuatu yang mereka konsumsi, tetapi juga simbol rasa nyaman, perhatian, dan ketersediaan. Di sinilah pentingnya mengenalkan konsep food justice atau keadilan pangan, serta empati sejak dini, agar anak tumbuh dengan kesadaran sosial yang kuat.
Food justice adalah konsep yang menekankan bahwa setiap orang, termasuk anak-anak, berhak mendapatkan akses terhadap makanan yang layak, sehat, dan cukup. Dalam konteks PAUD, mengenalkan food justice bukan berarti mengajarkan konsep akademis yang rumit, tetapi membawa anak memahami bahwa teman-temannya mungkin punya makanan berbeda, ada yang lebih banyak atau lebih sedikit, dan itu wajar. Melalui kegiatan sederhana seperti berbagi camilan saat waktu makan bersama atau mendiskusikan dari mana makanan berasal, anak mulai belajar bahwa makanan bukan sekadar milik pribadi, tetapi bagian dari kesejahteraan bersama.
Pendekatan ini sejalan dengan penguatan empati, yaitu kemampuan anak untuk merasakan apa yang orang lain rasakan. Ketika anak melihat teman yang tidak membawa bekal, lalu tergerak untuk berbagi, itu menunjukkan perkembangan kemampuan prososial. Namun empati tidak muncul begitu saja; guru dan orang tua perlu mencontohkannya melalui tindakan sehari-hari. Misalnya, guru bisa berkata, “Teman kita hari ini belum membawa bekal, bagaimana kalau kita berbagi sedikit?” Dengan kalimat sederhana dan situasi nyata, anak belajar bahwa berbagi bukan kewajiban, melainkan bentuk perhatian.
Pengenalan food justice dan empati sejak dini juga mendukung pencapaian beberapa SDGs (Sustainable Development Goals), terutama SDG 2: Zero Hunger yang menekankan akses makanan bergizi bagi semua orang, dan SDG 4: Quality Education melalui pendidikan yang menumbuhkan nilai-nilai sosial. Selain itu, SDG 10: Reduced Inequalities juga relevan, karena mengajarkan anak untuk memahami perbedaan tanpa menciptakan jarak sosial. Dengan menanamkan nilai-nilai ini di PAUD, anak belajar bahwa dunia adalah ruang bersama yang perlu diisi dengan kepedulian.
Tantangan yang sering muncul adalah ketika anak mengaitkan makanan dengan perasaan aman atau rasa takut kehabisan. Karena itu, memaksa anak berbagi justru bisa membuatnya merasa kehilangan kontrol. Sebaliknya, berikan anak pengalaman positif tentang berbagi: biarkan mereka melihat bahwa meski berbagi, mereka tetap mendapatkan makanan yang cukup. Lingkungan yang aman, rutinitas makan yang teratur, dan komunikasi yang lembut dapat membantu anak memahami bahwa berbagi bukan ancaman, tetapi kesempatan untuk menjalin hubungan.
Trivia Menarik:
-
Anak usia 2–3 tahun secara alami berada pada tahap egosentris sehingga cenderung belum mampu memahami perspektif orang lain—ini sebabnya berbagi makanan terasa sulit.
-
Riset menunjukkan bahwa anak mulai menunjukkan perilaku prososial, termasuk berbagi, sejak usia 18 bulan, tetapi hanya jika ada dorongan emosional yang kuat seperti empati atau imitasi.
-
Kegiatan memasak bersama di sekolah adalah salah satu cara paling efektif mengenalkan food justice, karena anak melihat langsung proses dan nilai kerja kolektif.
-
PAUD yang menerapkan family-style dining (makan bersama sambil saling mengambil makanan) terbukti meningkatkan kemampuan berbagi dan regulasi diri anak.