Instruksi Ganda yang Membingungkan: Mengapa Anak Terkadang ‘Diam’ atau Tidak Merespons
Instruksi ganda yang membingungkan adalah kondisi ketika anak menerima dua atau lebih perintah dalam waktu yang bersamaan atau berdekatan, terutama dengan struktur bahasa yang kompleks, tempo bicara yang cepat, atau intonasi yang kurang jelas. Pada anak usia dini, kemampuan memproses bahasa masih berkembang sehingga mereka membutuhkan instruksi yang sederhana, jelas, dan disampaikan secara bertahap. Ketika instruksi terlalu banyak atau bercampur, otak anak dapat mengalami kelebihan beban informasi (cognitive overload), sehingga anak terlihat diam, bingung, atau tidak merespons sama sekali.
Fenomena anak yang “diam” sering kali disalahartikan sebagai sikap tidak patuh, malas, atau sengaja mengabaikan perintah. Padahal, dalam banyak kasus, anak sebenarnya sedang berusaha memahami apa yang diminta. Misalnya, ketika guru atau orang tua berkata, “Ambil tasmu, duduk rapi, lalu buka buku dan dengarkan Ibu ya,” anak harus memproses beberapa tindakan sekaligus. Bagi orang dewasa, kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi bagi anak usia dini, instruksi tersebut dapat terasa rumit dan membingungkan.
Selain jumlah perintah, penggunaan kata sambung, kalimat panjang, atau nada bicara yang bercampur emosi juga dapat memperparah kebingungan anak. Anak mungkin tidak tahu perintah mana yang harus dilakukan terlebih dahulu, atau justru takut salah sehingga memilih untuk berhenti dan diam. Diam pada anak sering kali merupakan bentuk mekanisme bertahan, bukan tanda pembangkangan.
Instruksi ganda juga dapat memengaruhi aspek emosional anak. Anak yang sering merasa gagal memahami perintah berpotensi mengalami penurunan rasa percaya diri. Mereka bisa menjadi ragu untuk mencoba, lebih pasif, atau menunggu bantuan orang dewasa. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat kemandirian dan keberanian anak untuk bereksplorasi serta berkomunikasi secara aktif.
Untuk menghindari kebingungan, orang dewasa disarankan memberikan instruksi secara singkat, satu per satu, dan disertai contoh atau gerakan. Memberi jeda waktu setelah satu instruksi juga penting agar anak memiliki kesempatan untuk memproses dan merespons. Pendekatan ini bukan hanya membantu anak memahami perintah, tetapi juga melatih kemampuan fokus, bahasa reseptif, dan regulasi diri.
Trivia Menarik:
Tahukah Anda bahwa anak usia 3–6 tahun umumnya hanya mampu memproses satu instruksi utama dalam satu waktu? Ketika anak terlihat diam setelah diberi perintah, besar kemungkinan otaknya sedang “memilah” informasi, bukan menolak instruksi. Bahkan, penelitian perkembangan anak menunjukkan bahwa jeda diam selama beberapa detik adalah tanda anak sedang berpikir dan belajar memahami bahasa.